Peta persebaran pasar residensial di kawasan penyangga ibu kota sedang mengalami pergeseran signifikan. Selama satu dekade terakhir, kawasan Depok kota dan lingkar pusat Kota Bogor menjadi magnet utama bagi para pencari hunian dan investor. Namun, ketika harga tanah di area-area tersebut telah mencapai titik jenuh (mature market) dan ruang terbuka hijau semakin terbatas, fokus pengembangan properti bergeser mencari kawasan pertumbuhan baru.
Kini, koridor Parung muncul sebagai primadona baru di antara perbatasan strategis Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan. Memadukan keunggulan harga awal (entry price) yang rasional, ketersediaan lahan luas untuk integrated township, serta percepatan infrastruktur tol lingkar luar, Parung diproyeksikan para analis properti sebagai the next sunrise property di koridor selatan Jakarta.
Berikut telaah mendalam mengenai faktor pendorong tren, pola permintaan pasar, dan alasan mengapa koridor Parung menjadi pilihan investasi properti paling menjanjikan ke depan.
Baca juga

Update Stok & Siteplan GDC Parung
1. Katalis Utama: Transformasi dari Jalur Perlintasan Menjadi Simpul Terpadu
Perubahan status Parung dari sekadar jalan penghubung antarkota menjadi episentrum hunian modern didorong oleh tiga pilar infrastruktur utama:
- Integrasi Multi-Tol Bebas Hambatan: Koneksi langsung menuju Tol Depok–Antasari (Desari) via gerbang Sawangan dan jaringan Tol JORR 2 via gerbang Pamulang memangkas waktu tempuh ke pusat bisnis Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan hingga di bawah 45 menit.








